Minggu, 17 Juni 2012

KAWASAN TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Lima kawasan dari bidang teknologi pembelajaran menurut definisi tahun 1994 yaitu Desain, Pengembangan, Pemanfaatan, Pengelolaan, dan Penilaian.
Fungsi Kawasan
Menurut Carrier dan Sales tahun 1978; Khenzek, Rachlin, dan Schannel tahun 1988; Kozma dan Bangert-Downs tahun 1987 taksonomi atau klasifikasi sering digunakan untuk menyederhanakan hubungan-hubungan yang timbul dari teori dan praktek. Taksonomi merupakan klasifikasi yang berlandaskan pada hubungan. Daya karya klasik Taksonomi Tujuan Pendidikan : Ranah Kognitif, Benjamin Bloom membedakan taksonomi dengan skema klasifikasi yang lebih sederhana. Menurut Bloom, taksonomi :

1.      Tidak boleh mengandung unsur-unsur yang arbritrer
2.      Harus sesuai dengan fenomena riil yang menjadi ungkapan istilah tersebut
3.      Harus teruji secara kongsisten dengan pandangan-pandangan teoritis dari bidang.
Menurut Bloom tahun 1956 tujuan utama dalam membuat suatu taksonomi adalah untuk mempermudah komunikasi. Tujuan utama dalam menciptakan taksonomi apapun ialah untuk pemulihan lambang-lambang yang sesuai, mendefinisikannya  yang tepat dan dapat digunakan serta mendapatkan consensus dari kelompok yang akan menggunakannya.
Fleishman dan Quaintance (1984) merangkum beberapa keuntungan potensial dari pengembangan suatu taksonomi tentang kinerja manusia, antara lain :
§  Membantu dalam melakukan review pustaka
§  Membuka peluang untuk tugas-tugas baru
§  Memaparkan jurang pemisah dalam pengetahuan dengan mengutarakan kategori dan sub-kategori pengetahuan, dan meningkatkan diskusi teoritikal atau penilaian
§  Untuk membantu pengembangan teori dengan jalan mengevaluasi seberapa jauh keberhasilan teori mengorganisasikan data observasi sebagai hasil penelitian dalam bidang Teknologi Pembelajaran.
Roland L. Jacobs (1988) mengusulkan adanya suatu kawasan teknologi kinerja manusia terdapat tiga fungsi, yaitu : fungsi pengelolaan, fungsi pengembangan system kinerja, dan komponen sitem kinerja manusia yang merupakan dasar konseptual untuk melakukan fungsi yang lain. Subkomponen pengembangan adalah langkah-langkah dalam proses pengembangan. Sedangkan subkomponen dari system perilaku manusia adalah konsep-konsep mengenai organisasi, motivasi, perilaku, kinerja, serta umpan balik.
DESKRIPSI KAWASAN
Ø  Kawasan Desain
Teori desain jauh lebih maju dibandingkan dengan bidang lain yang mempunyai hubungan erat dengan tradisi praktek dalam membangun landasan pengetahuan. Namun dalam hal penggunaan teknologi, penelitian dan teori desain hampir selalu mengikuti  eksplorasi kaum praktisi mengenai kemampuan perangkat keras atau perangkat lunak yang baru. Terutama pada masa sekarang ini.
Desain adalah proses untuk menentukan kondisi belajar. Tujuan desain adalah untuk menciptakan strategi dan produk pada tingkat makro, seperti program dan kurikulum, dan pada tingkat mikro, seperti pelajaran dan modul.
Kawasan desain mempunyai empat cakupan, yaitu :
·         Desain Sistem Pembelajaran (DSI) adalah prosedur yang terorganisasi yang meliputi langkah-langkah penganalisaan, perancangan, pengembangan, penaplikasian, dan penilaian pembelajaran.
·         Desain Pesan meliputi perencanaan untuk merekayasa bentuk fisik dari pesan (Grawbowski, 1991 : 206). Karakteristik lain dari desain pesan adalah bahwa desain harus bersifat spesifik baik terhadap mediannya maupun tugas belajarnya.
·         Strategi Pembelajaran adalah spesifikasi untuk menyeleksi serta mengurutkan peristiwa belajar atau kegiatan pembelajaran dalam suatu pembelajaran.
·         Karakteristik Pebelajar adalah segi-segi latar belakang pengalaman pebelajar yang berpengaruh terhadap efektifitas proses belajarnya.
Kecenderungan dan Permasalahan
Berpusat pada penggunaan desain system pembelajaran yang tradisional, aplikasi teori belajar dalam desain, dan pengaruh teknologi baru pada proses penyusunan desain. Satu masalah yang sangat penting ialah perlunya ada teori yang menghubungkan klasifikasi belajar dengan pemilihan media. Setiap langkah dalam proses desain system pembelajaran dari analisis tugas sampai pada penilaian, kecuali pemilihan media mempunyai dasar landasan teori klasifikasi belajar dan prosedur untuk melaksanakannya.
Ø  Kawasan Pengembangan
Kawasan pengembangan berakhir pada produksi media. Melalui proses bertahun-tahun perubahan dalam kemampuan media ini kemudian berakibat perubahan dalam kawasan. Selama Perang Dunia II, banyak jenis bahan yang diproduksi untuk pelatihan militer, terutama film (Seattler,1968). Setelah perang, televisi sebagai media yang baru juga digunakan untuk kepentingan pendidikan dan muncul peradaban baru televisi.
Pengembangan adalah proses penterjemahan spesifikasi desain ke dalam bentuk fisik.

Kawasan pengembangan dapat digolongkan  menjadi empat kategori :
a.       Teknologi Cetak adalah cara untuk memproduksi atau menyampaikan bahan, seperti buku-buku dan bahan-bahan visual yang statis, terutama melalui proses pencetakan ekanis atau fotografis.
      Karakteristik teknologi cetak/visual yaitu :
§  Teks dibaca secara linier, sedangkan visual direkam menurut ruang.
§  Keduanya biasanya memberikan komunikasi satu arah yang pasif (hanya menerima).
§  Keduanya berbentuk visual yang statis.
§  Pengembangannya sangat tergantung pada prinsip-prinsip linguistic dan presepsi visual.
§  Keduanya berpusat pada pebelajar.
§  Informasi dapat diorganisasikan dan distrukturkan kembali oleh pemakai.
b.      Teknologi Audiovisual merupakan cara memproduksi dan menyampaikan bahan dengan menggunakan audio dan visual.
Karakteristik teknologi audiovisual yaitu :
·         Bersifat linier
·         Menamiplkan visual yang dinamis
·         Secara khas digunakan menurut cara yang sebelumnya telah ditentukan oleh desainer/pengembang
·         Cenderung merupakan bentuk representasi fisik dari gagasan yang riil dan abstrak.
·         Dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip psikologi tingkah laku dan kognitif
·         Sering berpusat pada guru, kurang memperhatikan interaktivitas pebelajar.
c.       Teknologi Berbasis Komputer merupakan cara-cara memproduksi dan menyampaikan bahan dengan menggunakan perangkat yang bersumber pada microprosesor.
Karakteristik teknologi berbasis komputer yaitu :
§  Digunakan secara acak atau tidak berurutan, disamping secara linier.
§  Dapat disunakan sesuai dengan keinginan pebelajar, maupun menurut cara yang dirancang oleh desainer/pengembang.
§  Gagasan-gagasan biasanya diungkapkan secara abstrak dengan menggunakan kata, symbol maupun grafis.
§  Prinsip-prinsip ilmu kognitif diterapkan selama pengembangan
§  Belajar dapat perbusat pada pebelajar dengan tingkat interaktivitas yang tinggi.
d.      Teknologi Terpadu merupakan cara untuk memproduksi dan menyampaikan bahan dengan memadukan beberapa media yang dikendalikan oleh computer.
Karakteristik teknologi terpadu yaitu :
·         Dapat digunakan secara acak atau tidak berurutan, disamping secara linier ;
·         Dapat digunakan sesuai dengan keinginan pebelajar, disamping menurut cara seperti yang dirancang oleh pengembangnya ;
·         Gagasan-gagasan sering disajikan secara realistic dalam konteks pengalaman Pabelajar, relevan dengan kondisi Pebelajar, dan dibawah kendali Pebelajar ;
·         Prinsip-prinsip ilmu kognitif dan konstruktif diterapkan dalam pengembangan dan pemanfaatan bahan pembelajaran ;
·         Belajar dipusatkan dan diorganisasikan menurut pengetahuan kognitif sehingga pengetahuan terbentuk pada saat digunakan ;
·         Bahan belajar menunjukkan interaktivitas pebelajar yang tinggi ;
·         Sifat bahan yang mengintegrasikan kata-kata dan tamsil dari banyak sumber media.
Kecenderungan dan Permasalahan
Kecenderungan dan permasalahan teknologi cetak dan teknologi audiovisual mencakup peningkatan perhatian terhadap desain teks, kerumitan visual serta penggunaan isyarat warna (Berry 1992). Kecenderungan dan permasalahan dalam teknologi komputer dan teknologi terpadu dari kawasan pengembangan terletak pada tantangan mendesain teknologi interaktif, penerapan kontruktivisme dan teori belajar sosial, sistem pakar dan otomisasi peralatan pengembangan, serta aplikasi untuk belajar jarak jauh.
Ø  Kawasan Pemanfaatan
Pemanfaatan adalah aktivitas menggunakan proses dan sumber untuk belajar. Pemanfaatan mungkin merupakan kawasan Teknologi Pembelajaran tertua diantara kawasan-kawasan yang lain, karena pengunaan bahan audiovisual secara teratur mendahului meluasnya perhatian terhadap desain dan produksi media pembelajaran yang sistematis. Pada tahun 1923 dana pendidikan visual dalam system persekolahan kota mencakup projector, stereopticons,   persewaan film dan lentera film bingkai (lantern slides). Setelah Perang Dunia II, gerakan pembelajaran audiovisual mengorganisasikan dan mempromosikan penggunaan bahan-bahan audiovisual.
Selama bertahun-tahun, kawasan pemanfaatan dipusatkan pada aktivitas guru dan ahli media yang membantu guru. Model dan teori dalam kawasan pemanfaatan cenderung terpusat pada perspektif pengguna. Akan tetapi dengan diperkenalkannya konsep difusi inovasi pada akhir tahun 1960 yang mengacu pada proses komunikasi dan melibatkan pengguna dalam mempermudah proses adopsi suatu gagasan perhatian kemudian berpaling ke perspektif penyelenggara.
Secara historis kawasan mempunyai kebijakan dan aturan sendiri. Akan tetapi kawasan pemanfatanlah yang paling terkena oleh kebijakan-kebijakan dan aturan-aturan. Dengan demikian pemanfaatan menuntut adanya penggunaan, deseminasi, difusi, implementasi, dan pelembagaan yang sistematis. Hal tersebut dihambat oleh kebijakan dan peraturan.
Keempat kategori dalam kawasan pemanfaatan ialah :
·         Pemanfaatan Media ialah penggunaan yang sistematis dari sumber belajar.
·         Difusi Inovasi adalah proses berkomunikasi melalui strategi yang terencana dengan tujuan diadopsi.
·         Imlementasi dan Pelembagaan ialah penggunaan bahan dan strategi pembelajaran dalam keadaan yang sesungguhnya (bukan tersimulasikan). Sedangkan pelembagaan yaitu penggunaan yang rutin dan pelestarian dari inovasi pembelajaran dalam suatu struktur atau budaya organisasi.
·         Kebijakan dan Regulasi adalah aturan dan tindakan dari masyarakat (atau wakilnya) yang mempengaruhi difusi atau penyebaran dan penggunaan Teknologi Pembelajaran.
Kecenderungan dan Permasalahan, pada umumnya berkisar pada kebijakan dan peraturan yang mempengaruhi penggunaan, difusi, implementasi dan pelembagaan. Masalah lain yang berhubungan dengan kawasan ini ialah bagaimana gerakan restruktursasi sekolah dapat mempengaruhi penggunaan sumber pembelajaran.


Ø  Kawasan Pengelolaan
Konsep pengelolaan merupakan bagian integral dalam bidang Teknologi Pembelajaran dan dari peran kebanyakan para teknologi pembelajaran. Seorang teknolog pembelajaran mungkin terlibat dalam usaha pengelolaan projek pengembangan pembelajaran atau pengelolaan pusat media sekolah. Tujuan  yang sesungguhnya dari pengelolaan kasus demi kasus dapat sangat bervariasi, namun keterampilan pengelolaan yang mendasarinya relative tetap sama apapun kasusnya.
Kawasan pengelolaan semula berasal dari administrasi pusat media, program media dan pelayanan media. Dengan semakin rumitnya praktek pengelolaan dalam bidang ini teori pengelolaan umum mulai diterapkan dan diadaptasi. Teori pengelolaan projek digunakan khususnya dalam proyek desain pembelajaran, karena semakin diperlukan dalam praktek pengelolaan.
Pengelolaan meliputi pengendalian Teknologi Pembelajaran melalui perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian dan supervise. Pengelolaan biasanya merupakan hasil dari penerapan dari suatu system nilai. Secara singkat ada empat kategori dalam kawasan pengelolaan, yaitu :
·         Pengelolaan Proyek meliputi perencanaan, monitoring dan pengendalian proyek desain, dan pengembangan.
·         Pengelolaan Sumber mencakup perencanaan, pemantauan, dan pengendalian system pendukung dan pelayanan sumber.
·         Pengelolaan Sistem Penyampaian meliputi perencanaan, pemantauan, pengendalian “cara bagaimana distribusi bahan pembelajaran diornganisasikan … Hal tersebut merupakan gabungan medium dan cara penggunaan yang dipakai dalam menyajikan informasi pemelajaran kepada pebelajar” (Elligton dan Harris, 1986:47).
·         Pengelolaan Informasi meliputi perencanaan, pemantauan dan pengendalian cara penyimpanan, pengiriman/pemindahan atau pemrosesan informasi dalam rangka tersedianya sumber untuk kegiatan belajar.
Kecenderungan dan Permasalahan
Kecenderungan terhadap peningkatan dan pengelolaan kualitas dari dunia industri nampaknya akan menyebar ke dunia pendidikan. Jika demikian hal tersebut akan membawa dampak pada kawasan pengelolaan. Mengurangi hal ini akan menjadi tantangan bagi para pengelola untuk  menggunakan sumber-sumber yang ada sekarang secara lebih baik.
Ø  Kawasan Penilaian
Penilaian dalam pengertian paling luas adalah aktivitas manusia sehari-hari. Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu menakar nilai aktivitas atau kejadian berdasarkan kepada system penilaian tertentu. Pengembangan program pendidikan formal, banyak diantaranya yang didanai oleh pemerintah federal, menuntut perlunya program penilaian yang bersifat formal pula.
Dengan perhatian yang lebih terarah pada penilaian formal menjadi jelas bahwa penilaian harus membandingkan hasil dengan tujuan. Jadi lingkup penilaian mencakup penelusuran kebutuhan(need assessment). Kawasan penilaian tumbuh bersamaan dengan berkembangnya bidang penelitian dan metodologi. Keduanya sering berjalan seiring atau bersamaan. Tujuan dari kawasan penilaian sendiri yaitu membantu pengambilan keputusan yang tepat bukannya untuk menguji hipotesa.
Dalam kawasan penilaian dibedakan pengertian antara penilaian program penilaian projek dan penilaian produk.
Dalam kawasan penilaian terdapat empat subkawasan,yaitu :
·         Analisis Masalah
Mencakup cara penentuan sifat dan parameter masalah dengan menggunakan strategi pengumpulan informasi dan pengambilan keputusan.
·         Pengukuran Acuan-Patokan (PAP) meliputi teknik-teknik untuk menentukan kemampuan pebelajar untuk menguasai materi yang telah ditentukan sebelumnya.
·      Penilaian Formatif dan Sumatif. Penilaian formatif berkaitan dengan pengumpulan informasi tetntang kecukupan dan penggunaan informasi ini sebagai dasar pengembangan selanjutnya. Sedangkan penilaian sumatif berkaitan dengan pengumpulan informasi tentang kecukupan untuk pengambilan keputusan dalam pemanfaatan.


Kecenderungan dan Permasalahan
Penilaian kebutuhan dan jenis “Front-end analysis” yang lain semula berorientasi terutama pada perilaku dengan menitikberatkan pada data kinerja dan penjabaran materi/isi jadi bagian-bagian yang lebih kecil. Akan tetapi penekanan pada pengaruh konteks belajar yang sekarang memberi orientasi kognitif kadang-kadang orientasi kontruktivis pada proses penilaian kebutuhan.
Bidang-bidang lain yang penting untuk diperhatikan ialah pengukuran untuk tujuan kognitif tingkatan tinggi, tujuan avektif dan tujuan psikomotor. Penelitian tentang pengukuran acuan-patokan yang berasaskan komputer akan merangsang kawasan ini.
Tessmer (1993) mengusulkan suatu model penilaian formatif yang mengakomodasi suatu pendekatan “Kebutuhan yang berlapis”. Pendekatan ini memperhatikan sumber dan hambatan setiap projek dan berusaha menghindari perencanaan lapisan-lapisan penilaian formatif yang berlajur-lajur dengan tidak dapat diselesaikan dalam sebuah projek.

1 komentar: